Ubah Sampah Jadi Berkah, DWP Dinbudpar Brebes Gelar Pelatihan Eco Enzyme

BREBES, mediapenanews.net – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Brebes menggelar pertemuan rutin yang dirangkaikan dengan pelatihan pengolahan sampah organik menjadi cairan fermentasi multiguna atau Eco Enzyme, Rabu (28/1/2026). Kegiatan berlangsung di Aula Kantor Dinbudpar Brebes.

Selain sebagai sarana peningkatan kapasitas anggota, kegiatan ini juga menjadi momen penuh makna bagi Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DWP Dinbudpar, Ny. Sriatun Eko Supriyanto, yang menyampaikan motivasi dan pesan kebersamaan kepada para pendamping Aparatur Sipil Negara (ASN).

Dalam sambutannya, Sriatun menegaskan pentingnya peran istri ASN dalam mendukung kinerja suami melalui organisasi Dharma Wanita Persatuan. Ia menjelaskan bahwa sejak 25 Desember 2025 lalu, suaminya, Drs. Eko Supriyanto, M.Si, dilantik sebagai Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Brebes, namun masih mengemban amanah sebagai Plt Kepala Dinbudpar.

“Secara otomatis saya masih menjabat sebagai Plt Ketua DWP Dinbudpar. Saya berharap ke depan, di bawah kepemimpinan yang baru nanti yang saat ini masih dalam proses asesmen JPT, organisasi ini bisa berjalan jauh lebih baik lagi,” ujarnya.

Sriatun juga menyampaikan permohonan maaf sekaligus pesan tentang loyalitas sebagai abdi negara. Menurutnya, sebagai istri ASN harus siap mengikuti tugas dan penempatan sesuai Surat Keputusan (SK) Bupati.

“Kita harus siap ditempatkan di mana pun. Saya berharap silaturahmi dan kebersamaan ini tetap terjaga,” tambahnya.

Puncak acara diisi dengan pelatihan pembuatan Eco Enzyme yang dipandu oleh pegiat Eco Enzyme Nusantara wilayah Brebes, Ulfatunlaeli Sa’adiyah. Ia menjelaskan bahwa Eco Enzyme merupakan solusi praktis untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan memanfaatkan sampah dapur menjadi produk yang bernilai guna.

Laeli memaparkan formula sederhana pembuatan Eco Enzyme dengan perbandingan 1 : 3 : 10, yakni:

1 bagian gula merah atau molase,

3 bagian sampah organik (minimal lima jenis kulit buah atau sayur segar, tidak berlemak dan tidak keras),

10 bagian air (sekitar 60 persen dari volume wadah).

“Proses fermentasi dilakukan selama tiga bulan dalam wadah tertutup rapat. Hasilnya berupa cairan serbaguna yang dapat dimanfaatkan sebagai sabun mandi, karbol, detergen, hingga pembersih udara,” jelasnya.

Lebih dari sekadar produk kebersihan, Eco Enzyme juga disebut sebagai langkah nyata dalam menghadapi krisis iklim. Dengan mengurangi pembusukan sampah organik di TPA, emisi gas metana dapat ditekan sehingga berkontribusi pada pengurangan pemanasan global.

Melalui kegiatan ini, DWP Dinbudpar Brebes berharap para anggotanya tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pelopor pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan di lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar.(*)

Writer: IpEditor: Irfan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *